Luka biasanya menimbulkan rasa perih atau nyeri. Rasa tersebut menjadi tanda alami dari tubuh bahwa ada bagian yang mengalami cedera dan perlu diperhatikan.

Namun, pada sebagian orang dengan diabetes, luka di kaki dapat terlihat terbuka atau semakin lebar tanpa menimbulkan rasa sakit yang berarti. Kondisi ini sering membuat luka terlambat diketahui dan tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Luka yang tidak terasa sakit bukan berarti luka tersebut aman. Pada penderita diabetes, berkurangnya rasa sakit justru dapat berkaitan dengan gangguan saraf yang membuat kaki lebih sulit merasakan tekanan, panas, dingin, atau cedera.

Mengapa Luka Diabetes Bisa Tidak Terasa Sakit?

Salah satu komplikasi diabetes adalah neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf yang terjadi akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Jenis yang paling sering memengaruhi kaki adalah neuropati perifer.

Ketika saraf di kaki mengalami gangguan, seseorang dapat merasakan kesemutan, kebas, sensasi terbakar, atau bahkan kehilangan sebagian kemampuan untuk merasakan sakit. Akibatnya, lecet karena sepatu, luka tertusuk benda kecil, kulit pecah, atau lepuhan dapat tidak disadari.

Sebagai contoh, seseorang mungkin terus berjalan menggunakan sepatu yang menyebabkan gesekan. Karena tidak merasa sakit, tekanan dan gesekan tersebut terus terjadi hingga luka menjadi lebih dalam atau luas.

Inilah alasan pemeriksaan kaki setiap hari penting bagi orang dengan diabetes, termasuk ketika kaki terlihat baik-baik saja.

Mengapa Luka Bisa Makin Lebar?

Luka diabetes dapat memburuk karena beberapa kondisi yang terjadi bersamaan.

1. Cedera tidak segera diketahui

Ketika sensasi pada kaki berkurang, luka kecil dapat luput dari perhatian. Penderita mungkin tetap berdiri, berjalan, atau menggunakan alas kaki yang memberikan tekanan pada area luka. Tekanan berulang dapat menyebabkan jaringan terus mengalami kerusakan sehingga luka yang awalnya kecil menjadi semakin luas atau dalam.

2. Aliran darah ke kaki berkurang

Diabetes juga dapat memengaruhi pembuluh darah dan mengurangi aliran darah menuju tungkai dan kaki. Padahal, darah membawa oksigen dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan. Aliran darah yang kurang baik dapat membuat luka lebih sulit sembuh dan menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi.

3. Luka terus menerima tekanan

Luka pada telapak kaki sering menerima tekanan setiap kali penderita berdiri atau berjalan. Tanpa pengurangan tekanan atau offloading yang tepat, jaringan di sekitar luka dapat terus mengalami kerusakan. Pada luka kaki diabetes, tenaga medis mungkin menyarankan alas kaki khusus, alat penyangga, atau pembatasan aktivitas tertentu untuk mengurangi tekanan pada luka. Pengurangan tekanan perlu dilakukan berdasarkan pemeriksaan tenaga medis.

4. Infeksi mulai berkembang

Luka terbuka dapat menjadi jalan masuk bagi mikroorganisme. Pada penderita diabetes, infeksi dapat berkembang lebih cepat dan luka bisa semakin sulit ditangani, terutama jika aliran darah kurang baik. Infeksi tidak selalu langsung menimbulkan nyeri yang kuat karena gangguan saraf dapat mengurangi sensasi pada area tersebut.

Tanda Luka Diabetes Mulai Memburuk

Jangan hanya menggunakan rasa sakit sebagai patokan. Luka perlu diperhatikan dari perubahan bentuk, warna, cairan, bau, dan kondisi kulit di sekitarnya.

Waspadai beberapa perubahan berikut:

  • Luka terlihat semakin lebar atau dalam.
  • Kemerahan di sekitar luka semakin meluas.
  • Area luka terasa lebih hangat dibandingkan kulit sekitarnya.
  • Terjadi pembengkakan pada kaki atau sekitar luka.
  • Keluar nanah, darah, atau cairan dalam jumlah lebih banyak.
  • Muncul bau tidak sedap dari luka.
  • Warna kulit atau jaringan berubah menjadi gelap atau hitam.
  • Penderita mengalami demam, menggigil, lemas, atau merasa tidak sehat.
  • Luka tidak menunjukkan tanda perbaikan setelah beberapa hari.
Kemerahan, rasa hangat, pembengkakan, nyeri, keluarnya cairan, dan bau baru dapat menjadi tanda luka perlu segera diperiksa. Gejala seperti demam, menggigil, atau merasa sangat tidak sehat dapat menunjukkan kondisi yang lebih serius.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Menemukan Luka?

Saat menemukan luka pada kaki penderita diabetes, jangan menunggu sampai luka terasa sakit. Langkah awal yang paling penting adalah melindungi area luka dan mendapatkan penilaian yang tepat.

Periksa kondisi luka

Perhatikan ukuran, kedalaman, warna, cairan, bau, dan kondisi kulit di sekelilingnya. Bila memungkinkan, dokumentasikan menggunakan foto dengan pencahayaan dan jarak yang sama untuk membantu memantau perubahan. Namun, foto tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

Hindari memberikan tekanan pada luka

Jangan terus berjalan atau berdiri menggunakan bagian kaki yang terluka. Tekanan berulang dapat memperburuk kerusakan jaringan. Kebutuhan mengurangi tekanan harus disesuaikan dengan lokasi dan kondisi luka. Konsultasikan kepada dokter, perawat luka, atau tenaga medis untuk menentukan cara yang aman.

Jaga luka tetap terlindungi

Hindari menyentuh luka dengan tangan yang belum dibersihkan. Gunakan penutup luka yang sesuai untuk melindungi area tersebut dari gesekan dan kontaminasi. Apabila luka sudah mendapatkan perawatan dan balutan dari tenaga medis, jangan membuka atau menggantinya sendiri sebelum memperoleh petunjuk yang jelas.

Segera konsultasikan

Luka pada penderita diabetes sebaiknya diperiksa lebih awal, khususnya jika berada di kaki, tidak terasa sakit, semakin luas, mengeluarkan cairan, atau menunjukkan tanda infeksi. Pemeriksaan dini membantu tenaga medis menilai kedalaman luka, kondisi aliran darah, gangguan saraf, keberadaan infeksi, serta kebutuhan perawatan lanjutan.

Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Penanganan yang kurang tepat dapat membuat luka semakin sulit membaik. Hindari beberapa tindakan berikut:

  • Memencet luka atau mengeluarkan nanah sendiri.
  • Menggunting kulit mati, kapalan, atau jaringan di sekitar luka.
  • Mengoleskan bahan yang tidak jelas keamanan dan kebersihannya.
  • Merendam kaki terlalu lama.
  • Menempelkan sumber panas pada kaki yang kebas.
  • Berjalan tanpa alas kaki, termasuk di dalam rumah.
  • Menutup luka menggunakan bahan yang tidak bersih.
  • Menghentikan pengobatan yang diberikan dokter tanpa konsultasi.
  • Menunggu sampai luka terasa sakit sebelum mencari bantuan.
Orang dengan gangguan saraf juga dapat tidak menyadari ketika kulit mengalami cedera akibat air terlalu panas, alat pemanas, atau benda tajam. Karena itu, kaki perlu dilindungi dari panas, tekanan, dan cedera yang mungkin tidak langsung terasa.

Peran Menjaga Kebersihan Luka Diabetes

Menjaga kebersihan merupakan salah satu bagian penting dalam perawatan luka. Namun, luka diabetes bukan sekadar luka permukaan sehingga penanganannya tidak cukup hanya dengan mengoleskan atau menyemprotkan antiseptik.

Tenaga medis mungkin perlu menilai jaringan luka, infeksi, tekanan pada kaki, sirkulasi darah, kadar gula darah, serta balutan yang paling sesuai.

Probiogel merupakan antiseptik luka modern berbasis HOCl yang membantu menjaga kebersihan luka serta dirancang nyaman dan tidak perih saat digunakan. Untuk luka diabetes yang sudah terbuka, penggunaan produk perawatan luka perlu mengikuti petunjuk penggunaan dan arahan tenaga medis. Probiogel tidak menggantikan pemeriksaan, antibiotik, tindakan pembersihan jaringan, atau penanganan medis lain yang dibutuhkan.

Kesimpulan

Luka diabetes dapat tidak terasa sakit karena kerusakan saraf mengurangi kemampuan kaki dalam merasakan cedera. Di saat yang sama, gangguan aliran darah dan tekanan berulang dapat membuat luka lebih sulit sembuh, semakin luas, dan lebih rentan mengalami infeksi.

Karena itu, jangan menilai keamanan luka hanya berdasarkan ada atau tidaknya rasa sakit. Periksa kaki setiap hari dan segera cari bantuan apabila luka menunjukkan perubahan atau tidak mulai membaik.

Jika bingung dengan kondisi luka, konsultasi gratis di web resmi probiogel.co.id.